Liga Champions: Arsenal 2-0 Dortmund – Hadiah untuk Arsenal Bernama Dortmund Kelas Bundesliga

arsenaldortmundisi

Beritabola.com Lanjutan Liga Champions musim 2014/15 mempertemukan dua tim yang sama-sama membutuhkan kepastian di Grup D. Arsenal yang membutuhkan tambahan angka untuk memastikan satu tempat di 16 besar menjamu Borussia Dortmund yang sudah dipastikan lolos ke fase berikutnya, namun tetap membutuhkan setidaknya satu poin tambahan untuk mengamankan posisi puncak.

Pada akhirnya, pertarungan bertajuk adu keras kemauan tersebut dimenangi oleh Arsenal yang belum mendapatkan kepastian apapun ketika memasuki lapangan.

Kekuatan Berdasarkan Susunan Pemain

 

Jika patokannya hanya statistik pertandingan yang terpampang dalam grafis di atas saja, kekalahan Dortmund memang terasa tidak adil; mereka lebih banyak menguasai bola. Mereka, karenanya, lebih banyak memainkan bola dan bertukar umpan. Hanya ada empat pasang pemain Arsenal dalam daftar pass combination yang mampu menampung 18 pasang pemain.

Arsenal, pada akhirnya, keluar sebagai pemenang karena mereka mampu bermain cepat, tepat, dan efektif. Arsenal tidak membutuhkan jumlah umpan dan tembakan tepat sasaran sebanyak Dortmund untuk mampu mencetak dua gol ke gawang lawan. Dengan aksi minimal, Arsenal mampu meraih hasil maksimal.

Badai cedera yang masih menerpa membuat Arsene Wenger terpaksa meninggalkan banyak pemain andalan termasuk duo penjaga gawang kelas satu, Wojciech Szczesny dan David Ospina. Sebagai gantinya, Wenger memberi kepercayaan kepada Emilio Martinez untuk tampil sebagai penjaga gawang utama sementara Ryan Huddart, penjaga gawang akademi, duduk di bangku cadangan.

 

Duet bek tengah masih dipercayakan kepada Nacho Monreal dan Per Mertesacker. Laurent Koscielny belum memenuhi standar match fitness yang dibutuhkan untuk bermain penuh sehingga ia hanya didaftarkan sebagai pemain cadangan saja.

Tanpa Danny Welbeck dan Olivier Giroud, peran ujung tombak dipercayakan kepada Yaya Sanogo walaupun Wenger sebenarnya bisa saja memilih Lukas Podolski atau Joel Campbell.

 

Jurgen Klopp sendiri menyesuaikan formasi berdasarkan ketersediaan pemain yang ada. Tanpa Marco Reus, Dortmund dibuatnya bermain dengan formasi 4-4-2 dengan Ciro Immobile dan Pierre-Emerick Aubameyang sebagai duet penyerang.

Arsenal: Cepat, Tepat, dan Efektif

Semalam, tidak nampak Arsenal yang sabar membangun serangan lewat umpan pendek dari kaki ke kaki; Arsenal yang banyak dipuji di Inggris karena berani bermain indah di negeri tendang dan berlari. Yang ada, yang tersaji di depan mata dan di layar kaca, adalah Arsenal yang bermain mengandalkan kecepatan dan direct pass.

Tidak terlalu mengejutkan, memang, karena empat starter terdepan Arsenal memang memiliki kualitas yang cukup baik untuk mendukung strategi ini. Yang membuatnya lebih manis lagi, para pemain Dortmund sendiri seperti sedang berada di bawah standar sehingga mereka sangat mudah untuk dilewati.

 

Grafis take-ons menunjukkan bagaimana para pemain Dortmund begitu mudah dipecundangi. Mereka berulang kali berhasil dilewati dan kalah dalam adu lari. Begitu mudahnya melewati para pemain Dortmund sehingga duo fullback Arsenal, Kieran Gibbs dan Calum Chambers, berhasil melewati lawan sebanyak enam kali.

Jika enam dari 24 tidak terdengar hebat, cobalah ini: 25% keberhasilan Arsenal melewati lawan dicatatkan oleh dua orang pemain yang tugas utamanya adalah mengamankan lini pertahanan.

Selain mudah dilewati, para pemain Dortmund juga kurang responsif. Mereka berkali-kali nampak telalu lama berpikir sebelum bertindak. Pada menit ke-53, di depan kotak penalti Dortmund, Alex Oxlade-Chamberlain dengan leluasa menunggu bola jatuh di tempat yang tepat untuk melepaskan sebuah tendangan voli yang, pada akhirnya, membentur mistar gawang Dortmund. Terlepas dari masuk atau tidaknya bola tendangan Chamberlain, ada pengambilan keputusan yang tidak tepat dari para pemain Dortmund.

Kedua gol Arsenal sendiri juga dapat tercipta dari kombinasi antara permainan cepat Arsenal dan respon lambat Dortmund. Gol pertama, yang dicetak oleh Sanogo sebelum pertandingan tepat memasuki menit kedua, bermula dari sebuah throw incepat yang dilakukan oleh Chambers.

Sanogo yang sudah menanti di dalam kotak penalti menjauhkan bola dari jangkauan Matthias Ginter dengan sebuah kontrol bola sempurna. Sanogo kemudian memberikan bola kepada Santi Cazorla dengan sebuah backheel. Aksi tersebut membuat para pemain Dortmund ramai-ramai mengejar Cazorla sehingga Sanogo berdiri bebas di aera berbahaya.

 

Ketika Cazorla mengambil keputusan cepat untuk mengembalikan bola kepada Sanogo, semuanya telah terlambat. Penyerang muda berkebangsaan Prancis tersebut hanya perlu berhadapan dengan Roman Weidenfeller, tanpa gangguan dari satupun pemain Dortmund. Tanpa cela, Sanogo mencetak gol dengan cara menggulirkan bola di antara kedua kaki Weidenfeller.

Gol kedua Arsenal, sementara itu, terlahir dari ketidakmampuan para pemain Dortmund untuk menutup ruang dengan cepat. Bola curian di daerah permainan sendiri dengan cepat dikirimkan kepada Cazorla yang telah menanti di daerah permainan Dortmund. Tanpa banyak aksi, Cazorla kemudian memberi umpan mendatar kepada Alexis Sanchez. Setelah mengontrol bola, Sanchez hanya melakukan satu dorongan sederhana untuk mendapatkan sudut tembakan yang baik.

Ada satu pemain Dortmund yang tidak lambat bereaksi dalam proses gol ini, sebenarnya. Ia adalah Weidenfeller. Namun tendangan Sanchez terlampau jauh untuk dijangkau. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Weidenfeller, yang memang tidak bisa begitu saja disalahkan mengingat kualitas tendangan Sanchez layak disebut sangat baik.

Permainan cepat, tepat, dan efektif yang diperagakan oleh Arsenal membawa mereka menemukan apa yang mereka cari. Bola memang lebih banyak bersentuhan dengan para pemain Dortmund, namun Arsenal mampu memanfaatkan dengan baik sedikit waktu yang mereka miliki.

Berbeda dengan Dortmund yang nampak tak memiliki arah, Arsenal tahu apa yang harus mereka lakukan. Untuk urusan memainkan bola di area pertahanan lawan, Arsenal memiliki persentase yang lebih baik: 67,78% berbanding 64,60%. Karenanya, tidak mengherankan jika Arsenal mampu mencetak dua gol sementara Dortmund tidak berhasil melakukan hal yang sama.

Liga Champions Rasa Bundesliga

Selain karena gagal menghadirkan kualitas yang dibutuhkan di area pertahanan lawan, ada dua alasan lain yang membuat Dortmund gagal menyarangkan bola ke gawang Arsenal. Pertama, karena Dortmund melepaskan tembakan melenceng. Kedua, karena Dortmund melepaskan tembakan tepat sasaran.

Berbeda dengan Weidenfeller yang berkali-kali jatuh bangun mengamankan gawang Dortmund dari ancaman para pemain Arsenal, Martinez menjalani pertandingan yang lebih mudah. Bukan karena Dortmund tidak mencatatkan tembakan tepat sasaran. Itu anggapan yang keliru karena jumlah tembakan tepat sasaran yang berhasil dilepaskan oleh Dortmund sejatinya lebih banyak ketimbang Arsenal. Martinez tidak benar-benar harus bekerja keras karena tembakan tepat sasaran para pemain Dortmund terlalu tepat sasaran. Tembakan tepat sasaran yang dilepaskan oleh para pemain Dortmund selalu saja tepat mengarah kepadanya.

Secara keseluruhan, kualitas permainan yang ditunjukkan oleh Dortmund berada di bawah standar yang mereka tampilkan pada empat pertandingan sebelumnya. Dengan kata lain, semalam Dortmund bermain di Champions League dengan membawa kelas penampilan yang mereka tunjukkan di Bundesliga.

Faktor utama di balik kegagalan Dortmund untuk menghadirkan ancaman nyata tidak lain dan tidak bukan adalah kedisiplinan yang ditunjukkan oleh para pemain Arsenal ketika mereka tidak sedang menguasai bola.

 

Untuk meredam serangan Dortmund, Arsenal menjadi Dortmund; Arsenal melakukan Gegenpressing versi lunak. Lawan pertama yang harus dihadapi oleh para pemain Dortmund adalah Sanogo sang ujung tombak. Pertahanan Arsenal dimulai dari barisan paling depan, sedekat mungkin dari gawang Dortmund dan sejauh mungkin dari gawang mereka sendiri.

 

Lewat cara tersebut, Arsenal tak hanya berkali-kali mampu menjauhkan ancaman. Menekan lawan secepat mungkin dan sejauh mungkin dari gawang sendiri berkali-kali membuat Arsenal berhasil membuat Dortmund melakukan kesalahan di daerah yang diinginkan oleh Arsenal. Berkali-kali pula, karenanya, Arsenal mampu melakukan interception di daerah permainan lawan.

Kesimpulan

Kemenangan ini bukan hanya membuat Arsenal berhasil memastikan diri lolos ke babak berikutnya, tapi juga penting untuk membangkitkan moral anak asuhan Wenger yang masih juga tertatih-tatih di kancah domestik. Kemenangan ini tepat diraih setelah kekalahan menyakitkan dari Manchester United di Liga Inggris.

Bagi Dortmund, kekalahan ini layak disesalkan. Terlebih mereka sebenarnya tidak bermain buruk, bahkan mendominasi permainan dan mencatatkan percobaan mencetak gol yang tinggi. Apalagi kekalahan ini juga membuat mereka tak bisa berleha-leha di laga berikutnya jika masih ingin mengunci posisi sebagai juara grup.

Padahal jika hasil berakhir (minimal) seri, mereka sudah bisa mengunci juara grup dan bisa agak santai di laga terakhir guna memaksimalkan semua kekuatan di kancah domestik. Mereka masih ada dalam performa buruk di liga, bahkan berada di posisi tiga terbawah. Ini jelas situasi yang sulit dan mesti dipecahkan secepatnya.

====

*dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini.

(dtc/krs) Sumber: detiksport