Liga Inggris: Man Utd 3-0 Liverpool – Aksi Gemilang De Gea Melawan Buruknya Pertahanan ‘Si Merah’

16

Beritabola.com Manchester United membalas dendam kekalahan musim lalu dengan skor 3-0 dalam lanjutan pekan ke-16 Liga Inggris. Hasil yang terlalu mencolok untuk sekadar menyalahkan keputusan wasit atas gol offside Juan Mata, atau menganggap bahwa tuan rumah beruntung karena punya David De Gea. Meski bermain gemilang, kiper asal Spanyol tersebut bukan satu-satunya penyebab kekalahan Liverpool.

Sebenarnya “Setan Merah” bermain tak terlalu istimewa, terutama di sektor pertahanan. Tercatat 19 tembakan berhasil dilancarkan Liverpool dengan 9 di antaranya tepat sasaran.


[Susunan pemain kedua tim. Sumber: whoscored]

Badai cedera yang menimpa lini belakang MU membuat Louis van Gaal sepertinya terpaksa memainkan skema tiga bek. Formasi ini sebenarnya bukan pilihan utama mengingat cara ini mudah ditembus lawan. Walaupun masih ada nama Paddy McNair dan Tyler Blackett di bangku cadangan, Van Gaal belum percaya memasang dua bek muda tersebut. Sementara itu, Marcos Rojo dikabarkan mengalami cedera ringan dalam latihan terakhirnya.

Sebelumnya saat melawan Southampton, McNair ditarik keluar saat laga belum genap satu babak. Seusai pertandingan Van Gaal mengungkapkan bahwa ia menarik McNair lebih dini karena pemain tersebut bermain tidak percaya diri.

Di kubu Liverpool, Brendan Rodgers melakukan sedikit kejutan dengan memarkir kiper utama Simon Mignolet dan menggantinya dengan Brad Jones. Terlepas dari penampilan Mignolet yang memang angin-anginan, namun mengganti kiper utama dengan pemain yang baru 9 kali tampil untuk Liverpool sejak bergabung dari 2010 tersebut patut dipertanyakan. Penampilan Jones bahkan bisa dibilang tidak lebih baik dari Mignolet.

Liverpool juga tidak memasang striker murni dalam laga kali ini dengan lebih memilih menyimpan Mario Balotelli dan Rickie Lambert di bangku cadangan. Posisi ujung tombak kemudian diberikan kepada Raheem Sterling dengan dibantu Phillipe Coutinho dan Adam Lallana sebagai penyokong dan penyuplai bola.

Masalah Pemakaian 3 Bek MU: Distribusi Bola

Seperti yang disebutkan sebelumnya, MU tak bermain maksimal jika memakai skema tiga bek musim ini. Masalah utama adalah tidak berjalannya distribusi bola sehingga mereka gagal membangun serangan dari belakang. Marouane Fellaini terlihat sendirian melindungi para bek tersebut dalam menghadapi trio lini serang Liverpool. Akibatnya, Liverpool justru bermain dominan pada awal laga.

Hal ini diperparah dengan Fellaini yang gagal menjadi penghubung antarlini timnya. Hanya dalam waktu lima menit saja gelandang asal Belgia tersebut sudah melakukan 2 pelanggaran dan 1 blunder dan selalu gagal dalam melakukan umpan, tekel maupun menggiring bola serta mendapat 1 kartu kuning.

Selain itu, Liverpool juga aktif dalam melakukan tekanan ke lini pertahanan MU. Sterling, Lallana, dan Coutinho tak pernah turun terlalu dalam dan terus bersiap jika bek lawan melakukan kesalahan.

Masalah ini kemudian perlahan mampu diatasi saat Rooney rajin turun menjemput bola selepas 10 menit laga berjalan. Meski tak terlalu banyak membantu saat bertahan, pergerakan Rooney ke lini tengah membuat opsi umpan MU menjadi lebih variatif dan tak terlalu fokus pada Fellaini sehingga aliran bola mulai jalan. Pada fase ini Liverpool harus menurunkan tekanan karena harus bertahan.


[Pergerakan Rooney sebelum cetak gol pertama. Sumber: @FullTimeDevils]

Rapuhnya Sistem Pertahanan Liverpool

Tuan rumah melakukan fokus serangan pada sisi kanan yang dihuni Antonio Valencia. Bersama Fellaini, keduanya kerap melakukan umpan 1-2 yang akhirnya mampu tembus hingga area sepertiga akhir. Bahkan jika Valencia sedang turun membantu pertahanan, Van Persie tak segan untuk melebar agar bola tetap dapat dilancarkan ke sisi tersebut.


[Umpan sepertiga akhir MU, banyak melalui sisi kanan. Sumber: Statszone]

Taktik ini membuat Liverpool harus melakukan penjagaan ekstra pada sisi kiri. Selain Moreno, Joe Allen juga harus ikut melebar mengamankan pergerakan Valencia serta Fellaini.

Bahkan, pada proses gol pertama MU, Gerrard yang seharusnya mengamankan area tengah turut serta mengawal Valencia yang sebenarnya sedang sendirian. Tidak adanya pemain yang menjaga Rooney yang muncul dari lini kedua membuatnya bebas melepaskan tembakan dan mengecoh Brad Jones.

Masalah Liverpool diperparah dengan tidak adanya koneksi antara lini pertahanan dengan gelandang. Tiga bek di belakang seolah bekerja sendirian tanpa dibantu lini lainnya, sementara jarak ketiganya terlalu rapat di tengah dan cenderung menumpuk. Bandingkan dengan MU yang tetap memberi jarak antar pemain saat berjaga sehingga memudahkan dalam antisipasi serangan balik.


[Grafik proses gol pertama Manchester United]

Selain gol pertama tadi kelemahan pertahanan Liverpool juga terlihat pada gol kedua serta ketiga. Tidak ada penjagaan kepada Juan Mata saat ia melakukan sundulan di kotak penalti. Padahal, saat itu semua bek sudah turun dan dalam kondisi siap saat Ashley Young melepaskan umpan silang dan kemudian diteruskan Van Persie.

Begitu juga dengan gol ketiga yang terjadi melalui proses serangan balik. Jarak antarbek terlalu rapat membuat Juan Mata dengan mudah mengirim umpan terobosan ke Rooney. Bola muntah hasil sepakan tak sempurna Lovren kemudian membuat Mata dengan bebas menguasai bola hingga akhirnya ia mampu mengirim assist ke Van Persie.

Kebobrokan lini pertahanan Liverpool ini juga terlihat dari data lain. Pada 10 dari 11 pertandingan terakhir di Liga Inggris melawan klub Manchester, Liverpool selalu kebobolan minimal dua gol.


[Proses Gol Ketiga MU]

De Gea Seakan Membuat Penyerang Liverpool Terlihat Bodoh

Lini depan Liverpool sebenarnya bisa dibilang tak terlalu buruk dalam melakukan penyelesaian akhir, namun penampilan De Gea kemudian membuat mereka seakan terlihat bodoh. Kiper asal Spanyol iyu mencatatkan delapan penyelamatan – jumlah penyelamatan terbanyak kiper dalam satu pertandingan di musim ini.

Dari 9 tembakan tepat sasaran yang dilakukan Liverpool, hanya satu peluang yang memang seharusnya menjadi gol, yaitu peluang Sterling pada menit 55 hasil blunder yang dilakukan oleh Evans. Menerima “umpan” tadi, Sterling gagal memasukkan bola meski tinggal berhadapan dengan kiper dan dalam keadaan menguasai bola secara penuh.

De Gea selalu berada dalam posisi dan kondisi yang tepat saat Liverpool punya peluang tembakan. Hal ini membuat nyaris tidak ada sudut kosong di mulut gawang yang dapat dilewati oleh bola. Ia tahu aksi apa yang harus dilakukannya, posisi L (satu lutut turun menyentuh tanah), posisi M / X (kaki rapat dengan tangan siaga melompat), atau menjatuhkan diri.

Sederhananya adalah, jika memang tidak ada sudut kosong di mulut gawang, sekencang apapun bola ditendang pilihannya hanya ada 2: membentur kiper atau melebar. Selain itu penempatan sempurna yang dilakukan De Gea juga membuat sulit bagi penyerang untuk mencari alternatif lain, misalnya dengan mencungkil bola.

Hal ini sebenarnya dapat ditaklukan dan tak terlalu sulit, yaitu mencari alternatif titik tendangan lain dengan mengumpan ke pemain lain. Masalahnya adalah saat babak pertama Liverpool hanya punya Sterling sendirian sebagai ujung tombak, berulang kali peluangnya gagal karena terlalu memaksakan menyelesaikan kesempatan tersebut seorang diri.

Saat Balotelli masuk, pemain MU sudah terlalu banyak menumpuk di kotak penalti karena dalam keadaan unggul dan mulai fokus bertahan. Akibatnya, kondisi yang tak jauh berbeda pun terjadi meski Liverpool kini punya setidaknya lebih dari satu penyerang.

Selain kemampuan De Gea, hal lain yang bisa disoroti adalah masalah kemampuan para penyerang untuk memanfaatkan peluang. Ketika mereka membukukan kemenangan 3-0 di Old Trafford musim lalu, Liverpool melakukannya justru dengan jumlah peluang lebih kecil dari saat ini. Hal ini berbeda dari Juan Mata yang justru bisa mencetak lima gol dari enam peluang on-target-nya di musim ini.

Kesimpulan

Harus diakui bahwa De Gea menjadi salah satu faktor pembeda paling besar dalam laga kali ini. Terakhir kalinya ia mencatatkan penyelamatan lebih banyak dari laga melawan Liverpool, adalah pada 2011 silam ketika membuat sembilan penyelamatan melawan Tottenham Hotspur.

Namun permainan Liverpool juga tak istimewa-istimewa amat sehingga mereka tak bisa membuat klaim bisa menang jika tidak ada De Gea, misalnya. Taktik yang dijalankan Rodgers masih terlalu mudah ditebak dengan terus mengandalkan kedua sayap saat MU punya banyak pemain di tengah. Mereka juga hanya bisa melakukan tembakan dari luar kotak penalti jika tak dibantu kesalahan-kesalahan yang dilakukan bek MU.

Kekalahan ini membuat Liverpool mencatatkan start terburuk mereka sejak musim 1964/1965, berjarak satu poin lebih sedikit dari era Roy Hodgson pada 2010/2011. Sementara bagi Van Gaal hasil manis membuat tren kemenangan MU terjaga menjadi 6 kali berturut-turut, terbaik sejak musim terakhir Fergie yang mencatatkan 7 kemenangan beruntun.

====

* Dianalisis oleh @panditfootball. Profil lihat di sini

(dtc/mfi) Sumber: detiksport